GAYA KEPEMIMPINAN KIYAI
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Masalah
Pesantren telah lama menjadi lembaga yang memiliki kontribusi penting dalam
ikut serta mencerdaskan bangsa. Banyaknya jumlah pesantren di Indonesia, serta
besarnya jumlah santri pada tiap pesantren menjadikan lembaga ini layak
diperhitungkan dalam kaitannya dengan pembangunan bangsa di bidang pendidikan
dan moral.
Tantangan era globalisasi dan teknologi yang kian hari kian menjadi,
momotivasi pesantren untuk senantiasa mengadakan inovasi terhadap sistem yang
sudah ada. Berupa perbaikan-perbaikan yang secara terus menerus dilakukan, baik
dari segi manajemen, administrasi, akademik (kurikulum) maupun fasilitas,
menjadikan pesantren keluar dari kesan tradisional dan kolot yang selama ini
disandangnya. Beberapa pesantren bahkan telah menjadi model dari lembaga
pendidikan yang leading. Pesantren merupakan lembaga pendidikan yang
unik. Tidak saja karena keberadaannya yang sudah sangat lama, tetapi juga
karena kultur, metode, dan jaringan yang diterapkan oleh lembaga agama
tersebut. Karena keunikannya itu, C. Geertz menyebutnya sebagai subkultur masyarakat
Indonesia (khususnya Jawa). Pada
zaman penjajahan, pesantren menjadi basis perjuangan kaum nasionalis-pribumi.
Banyak perlawanan terhadap kaum kolonial yang berbasis pada dunia pesantren.
Pesantren sebagai tempat pendidikan agama memiliki basis sosial yang jelas,
karena keberadaannya menyatu dengan masyarakat. Pada umumnya, pesantren hidup
dari, oleh, dan untuk masyarakat. Visi ini menuntut adanya peran dan fungsi
pondok pesantren yang sejalan dengan situasi dan kondisi masyarakat, bangsa,
dan negara yang terus berkembang. Sementara itu, sebagai suatu komunitas,
pesantren dapat berperan menjadi penggerak bagi upaya peningkatan kesejahteraan
masyarakat mengingat pesantren merupakan kekuatan sosial yang jumlahnya cukup
besar. Secara umum, akumulasi tata nilai dan kehidupan spiritual Islam di
pondok pesantren pada dasarnya adalah lembaga “tafaqquh fiddin” yang
mengemban untuk meneruskan risalah nabi Muhammad saw sekaligus melestarikan
ajaran Islam.
Sebagai lembaga, pesantren dimaksudkan untuk mempertahankan nilai- niali
keislaman dengan titik berat pada pendidikan. Pesantren juga berusaha untuk
mendidik para santri yang belajar pada pesantren tersebut yang diharapkan dapat
menjadi orang-orang yang berwawasan agama Islam secara luas. Kemudian, mereka
dapat mengajarkannya kepada masyarakat, setelah selesai menamatkan pelajarannya
di pesantren.
Dunia pesantren sarat dengan aneka pesona, keunikan, kekhasan dan
karakteristik tersendiri yang tidak dimiliki oleh institusi lainnya. Pesantren
merupakan lembaga pendidikan Islam pertama dan khas pribumi yang ada di
Indonesia pada saat itu. Tapi, sejak kapan mulai munculnya pesantren, belum ada
pendapat yang pasti dan kesepakatan tentang hal tersebut. Belum diketahui
secara persis pada tahun berapa pesantren pertama kali muncul sebagai
pusat-pusat pendidikan agama di Indonesia. Pesantren yang paling lama di
Indonesia namanya Tegalsari di Ponorogo, Jawa Timur. Tegalsari
didirikan pada akhir abad ke-18, walaupun sebetulnya pesantren di Indonesia
mulai muncul banyak pada akhir abad ke-19.
Berangkat dari itu, menjadi sesuatu yang menarik untuk dikaji lebih
intensif tentang gaya kepemimpinan dan teknik pengambilan keputusan di
Pesantren dan
penulis memandang betapa urgennya Kepemimpinan di Pesantren, maka penulis
tertarik untuk membahas lebih dalam tentang hal tersebut. Sehingga penulis
mengambil tema yaitu: “MANAJEMEN, GAYA KEPEMIMPINAN DAN TEKNIK PENGAMBILAN KEPUTUSAN
DI PESANTREN DARUSSALAM.”
B.
Rumusan Masalah
Agar pembahasan dalam makalah ini praktis dan
sistematis, maka masalah yang terdapat dalam penelitian ini perlu dirumuskan
dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan, sebagai berikut:
1.
Apa saja hal-hal yang dikuatkan dalam pesantren?
2.
Bagaimana Gaya Kepemimpinan Kyai?
C.
Tujuan
Penelitian
Tujuan
Penulisan Makalah ini adalah:
1. Untuk mengetahui hal-hal yang dikuatkan dalam pesantren
2. Untuk mengetahui gaya kepemimpinan kyai
BAB
II
LANDASAN TEORI
A.
Pengertian Komunikasi
Istilah komunikasi
berasal dari kata Latin Communicare atau Communis yang berarti sama atau
menjadikan milik bersama. Kalau kita berkomunikasi dengan orang lain, berarti
kita berusaha agar apa yang disampaikan kepada orang lain tersebut menjadi
miliknya. Beberapa definisi komunikasi:
1.
Komunikasi adalah kegiatan perilaku atau kegiatan penyampaian
pesan atau informasi tentang pikiran atau perasaan (Roben.J.G).
2.
Komunikasi adalah sebagai pemindahan informasi dan pengertian
dari satu orang ke orang lain (Davis, 1981).
3.
Komunikasi adalah berusaha untuk mengadakan persamaan dengan
orang lain (Schram,W).
Komunikasi ialah proses penyampaian atau
penerimaan pesan dari satu orang kepada orang lain, baik langsung maupun tidak
langsung, secara tertulis, lisan maupun bahasa nonverbal. Orang melakukan
kominikasi disebut sebagai komunikator. Orang yang diajak berkomunikasi disebut
sebagai komunikan. Orang yang mampu berkomunikasi disebut sebagai komunikatif.
Orang yang komunikatif ialah orag yang mampu menyampaikan pesan atau informasi
kepada orang lain, baik secara langsung maupun tidak lagsung, secara tertulis,
lisan, maupun bahasa nonverbal sehingga orang lain dapat menerima informasi
(pesan) sesuai dengan harapan si pemberi informasi (pesan). Sebaliknya, ia
mampu menerima infomasi atau pesan orang lain yang dismapaikan kepadanya, baik
langsung maupun tidak langsung, secara tertulis, lisan, maupun bahasa
nonverbal.
Tujuan dan manfaat komunikasi adalah sebagai sarana
untuk: 1) meningkatkan kemampuan manajerial dan hubungan sosial; 2)
menyampaikan dan atau menerima informasi; 3) menyampaikan dan menjawab
pertanyaan; 4) mengubah perilaku (pola fikir, perasaan, dan tindakan) melalui
perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan; 5) mengubah keadaan
sosial; dan 6) dua hal yang dapat mengubah perilaku dan keadaan sosial
adalahkomunikasi dan pengambilan keputusan.
PRINSIP-PRISIP KOMUNIKASI
1)
Komunikasi adalah suatu proses
simbolik
2) Setiap perilaku mempunyai potensi
komunikasi
3) Komunikasi punya dimensi
isi dan dimensi hubungan
4) Komunikasi itu berlangsung
dalam berbagai tingkat kesengajaan
5) Komunikasi terjadi dalam
konteks ruang dan waktu
6) Komunikasi melibatkan
prediksi peserta komunikasi
B.
Pengertian Kepemimpinan
Menurut S.P.
Siagian adalah kemampuan dan keterampilan seseorang yang menduduki jabatan
sebagai pimpinan dalam suatu pekerjaan untuk mempengaruhi perilaku orang lain,
terutama bawahannya supaya berpikir dan bertindak sedemikian rupa sehingga melalui
perilaku positif ini memberikan sumbangan nyata dalam pencapaian tujuan
organisasi
Menurut Prof.
Kimbal Young, Pengertian Kepemimpinan ialah bentuk dominasi didasari
kemampuan pribadi yang sanggup mendorong atau mengajak orang lain untuk
melakukan sesuatu, berdasarkan penerimaan oleh kelompoknya dan memiliki
keahlian khusus yang tepat bagi situasi khusus.
Ordway
Tead di dalam bukunya The Art of Leadership, menyatakan sebagai
berikut: Pengertian Kepemimpinan merupakan kegiatan mempengaruhi
orang-orang agar mereka mau bekerja sama untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
Kepemimpinan menurut George R.
Terry adalah suatu kegiatan mempengaruhi orang-orang agar mereka suka
berusaha mencapai tujuan-tujuan kelompok. Menurut Howard H. Hoyt, Pengertian Kepemimpinan ialah
seni untuk mempengaruhi tingkah laku manusia, kamampuan untuk membimbing orang.
1.
Fungsi Kepemimpinan
Fungsi
Kepemimpinan sebagai berikut :
a.
Memprakarsai struktur organisasi
b.
Menjaga adanya koordinasi dan integrasi dalam organisasi, supaya
semuanya beroperasi secara efektif.
c.
Merumuskan tujuan institusional atau organisasional dan
menentukan sarana serta cara-cara yang efisien untuk mencapai tujuan tersebut.
d.
Mengatasi pertentangan serta konflik-konflik yang muncul dan
mengadakan evaluasi serta evaluasi ulang.
2.
Kualifikasi Pemimpin
a.
Ikhlas
Keikhlasan adalah factor terpenting dalam menentukan keberhasilan
dalam setiap usaha atau perjuangan khususnya ibadah. Dia tidak saja merupakan
prasyarat diterima atau tidaknya amal perbuatan seseorang, tapi ia juga menjadi
syarat mutlak bagi kemajuan dan perkembangan usaha apapun, terlebih dalam
proses pendidikan kaderisasi ummat seperti di Darussalam ini. Darussalam
sebagai lembaga kaderisasi yang mana segala proses pendidikan tersebut mengacu
kepada upaya merubah pola fikir, sikap dan prilaku anak didik yang negative
menjadi positif, mengarahkan gar mereka memiiki cita-cita atau idealisme
yang tinggi sebagai pemimpin dan pejuang li’ilaikalimatillah. Apabila
seorang pemimpin memahami hakikat keikhlasan maka ia akan menjadi pemimpin yang
berkarakter pejuang. Ada beberapa Pantulan Energy Ikhlas yaitu :Terikat dengan Allah,
Memiliki kesemangatan tinggi, Tidak takut dikritik, Memiliki kesabaran tinggi, Selalu
optimis.
b.
Selalu Mengambil Inisiatif
Pemimpin hendaknya selalu mengambil inisiatif yaitu selalu berfikir
cepat dan keras untuk mencari sekian banyak alternative dalam menata dan
menjalankan program-program pendidikan dengan tetap berpegang teguh pada nilai
dan system serta disiplin, sehingga lembaga yang dia kelola selalu dinamis dan
berkembang. Bahkan dalam hal ini banyak kebijakan yang harus segera diputuskan,
bukan saja kebijakan rutinitas, tetapi kebijakan yang bersifat futuristic,
yaitu selalu mengadakan perbaikan dan pengembangan kedepan.
c.
Mampu Membuat Jaringan Kerja dan Memanfaatkannya
Pemimpin harus memiliki keterampilan dan kemampuan untuk membuat
dan memanfaatkan jaringan kerja. Keterampilan tersebut sangat diperlukan untuk
meyakinkan ide-ide dan pandangan-pandangannya bisa diterima oleh orang lain.
Ini adalah kemampuan human relation. Kemampuan melakukan pendekatan agar orang
lain percaya kepada kita.
Untuk itu diperlukan keluwesan dalam bersikap dan bertindak.
Bagaimana memulainya?
Berawal dari sebuah keberanian atau nyali untuk membuat jaringan.
Hal ini sangatlah penting dilakukan oleh pemimpin, karena dengan
luasnya jaringsn tersebut akan memudahkan untuk menyelesiakan banyak
kepentingan lembaga, memperkuas jangkauan pemikiran, pengembangan ide-ide untuk
bisa di teansfer ke banyak pihak. Hal ini pula yang akan membentengi pondok
ini. Luasnya jaringan ini akan memperluas dan memperbanyak orang yang faham
akan ide dan cita-cita lembaga.
d.
Dapat Dipercaya
Dengan
kejujuran, seseorang akhirnya bisa dipercaya. Karena apa yang di manahkan dapat
di selesaikan dengan baik dan dapat dipertanggung jawabkan. Kepercayaan adalah
modal utama bagi seorang pemimipin dalam menjalankan tugas. Bila hilang
kepercayaan maka hilang pulalah wujud dia sebagai pemimpin atau manusia pada
umumnya. Banyak hal yang
bisa dilakukan oleh pemimpin agar dipercaya, diantaranya: Menekuni
dan menyelesaikan tugas dengan baik, Mempunyai
prestasi, Menjaga
amanah, dan Bersikap jujur.
e.
Bekerja Keras dan Bersungguh-Sungguh
Bekerja keraas
adalah wujud atau bukti seseorang yang memiliki cita-cita dan kemauan yang
kuat, sebagai pemimpin kesemangatan tersebut menjadi modal dasar bagi tercapainya
cita-cita. Selalu Mengadakan revisi, perubahan, inovasi pengembangan
dan juga penyempurnaan dalam organisasi.
BAB III
PEMBAHASAN
A.
Manajemen dan Administrasi Peningkatan Mutu Pondok Pesantren
Manajemen adalah keniscayaan bagi sebuah lembaga atau organisasi sekecil
apapun. Tanpa manajemen yang bagus, lembaga maupun organisasi tersebut akan
sulit mencapai target ataupun tujuan yang diinginkannya. Tak lepas dari hal
tersebut adalah lembaga pesantren. Sebuah institusi dan sistem pendidikan di Indonesia
yang embrionya mulai muncul sejak masuknya Islam ke nusantara ini pada abad 12
M dengan berbentuk pendidikan al-Qur’an dan
pendidikan agama lainnya di surau atau emperan masjid.
Pesantren memiliki sejarahnya yang panjang. Karena itu wajar kiranya ia
disebut sebagai lembaga pendidikan tradisional Islam. Beberapa definisi mencoba mengurai tentang pesantren atau pondok pesantren.
Pesantren atau pondok pesantren merupakan institusi lokal yang mengajarkan
praktik-praktik dan kepercayaan-kepercayaan Islam. Ia
adalah lembaga keagamaan yang mendidik manusia agar mampu berpegang teguh pada
al-Qur’an dan mengikuti sunnah Rasulullah saw sehingga menjadi pribadi
yang mempunyai komitmen dan konsistensi dalam setiap waktu dan kondisi. Adapun
deskripsi lahiriah pesantren adalah sebuah komplek dengan lokasi yang umumnya
terpisah dari kehidupan lingkungan di sekitarnya. Di dalamnya teerdapat
beberapa buah bangunan, rumah kediaman pengasuh (Jawa menyebutnya kyai,
Sunda ajengan, dan Madura nun atau bendara yang disingkat
menjadi ra), sebuah masjid atau surau, dan asrama tempat tinggal siswa
pesantren (santri).
Dilihat dari sisi administratif pesantren merupakan sebuah lembaga
pendidikan luar sekolah yang berkenan menyelenggarakan program pengajaan
pendidikan agama Islam kepada santri sebagai peserta didik. Hal ini sejalan
dengan kata pesantren itu sendiri yang berasal dari kata “santri” mendapat
awalan “pe” dan akhiran “an” sehingga hal ini mengandung pengertian tempat.
Bahasa sangsekerta menyebut istilah santri dengan sebutan “sastri” yang artinya
“melek hurup”, adapun dalam bahasa jawa disebutkan bahwa istilah santri berasal
dari kata “cantrik” yang artinya seseorang yang senantiasa taat kepada guru
serta selalu mengikuti kemana sang guru tersebut pergi dan menetap. Zamakshsyari menyebutkan bahwa istilah santri itu berasal
dari kata “sastri” yang memiliki pengertian manusia yang
mengetahui kitab-kitab agama Hindu. Digubah menjadi santri yang berarti manusia
yang mengetahui kitab-kitab agama Islam.
Ketika menginjak abad ke-20, yang sering disebut sebagai jaman modernisme
dan nasionalisme, peranan pesantren mulai mengalami pergeseran secara
signifikan. Sebagian pengamat mengatakan bahwa semakin mundurnya peran
pesantren di masyarakat disebabkan adanya dan begitu besarnya faktor politik
Hindia Belanda. Sehingga, fungsi dan peran pesantren menjadi bergeser dari sebelumnya.
Tapi, penjelasan di atas kiranya cukup untuk menyatakan bahwa pra abad ke-20
atau sebelum datangnya modernisme dan nasionalisme, pesantren merupakan lembaga
pendidikan yang tak tergantikan oleh lembaga pendidikan manapun. Dan, hal itu
sampai sekarang masih tetap dipertahankan.
Yang menarik di sini adalah bahwa pendidikan pesantren di Indonesia pada
saat itu sama sekali belum terstandarisasi secara kurikulum dan tidak
terorganisir sebagai satu jaringan pesantren Indonesia yang sistemik. Ini
berarti bahwa setiap pesantren mempunyai kemandirian sendiri untuk menerapkan
kurikulum dan mata pelajaran yang sesuai dengan aliran agama Islam yang mereka
ikuti. Sehingga, ada pesantren yang menerapkan kurikulum Depdiknas (Departemen
Pendidikan Nasional) dengan menerapkan juga kurikulum agama (dikenal dengan
istilah pesantren modern). Kemudian, ada pesantren yang hanya ingin memfokuskan
pada kurikulum ilmu agama Islam saja (dikenal dengan istilah pesantren
tradisional). Yang berarti bahwa tingkat keanekaragaman model pesantren di
Indonesia tidak terbatasi.
Setelah kemerdekaan negara Indonesia, terutama sejak transisi ke Orde Baru
dan ketika pertumbuhan ekonomi betul-betul naik tajam, pendidikan pesantren
menjadi semakin terstruktur dan kurikulum pesantren menjadi lebih tetap.
Misalnya, selain kurikulum agama, sekarang ini kebanyakan pesantren juga
menawarkan mata pelajaran umum. Bahkan, banyak pesantren sekarang melaksanakan
kurikulum Depdiknas dengan menggunakan sebuah rasio yang ditetapkannya, yaitu
70 persen mata pelajaran umum dan 30 persen mata pelajaran agama.
Sekolah-sekolah Islam yang melaksanakan kurikulum Depdiknas ini kebanyakan di
Madrasah.
Seiring dengan keinginan dan niatan yang luhur dalam membina dan
mengembangkan masyarakat, dengan kemandiriannya, pesantren secara terus-
menerus melakukan upaya pengembangan dan penguatan diri. Walaupun terlihat
berjalan secara lamban, kemandirian yang didukung keyakinan yang kuat, ternyata
pesantren mampu mengembangkan kelembagaan dan eksistensi dirinya secara berkelanjutan.
Mengutip Sayid Agil Siraj, ada tiga hal yang belum dikuatkan dalam
pesantren. Pertama, tamaddun yaitu memajukan pesantren. Banyak pesantren
yang dikelola secara sederhana. Manajemen dan administrasinya masih bersifat
kekeluargaan dan semuanya ditangani oleh kyainya. Dalam hal ini, pesantren
perlu berbenah diri.
Kedua, tsaqafah, yaitu bagaimana memberikan pencerahan kepada umat
Islam agar kreatif-produktif, dengan tidak melupakan orisinalitas ajaran Islam.
Salah satu contoh para santri masih setia dengan tradisi kepesantrenannya.
Tetapi, mereka juga harus akrab dengan komputer dan berbagai ilmu pengetahuan
serta sains modern lainnya.
Ketiga, hadharah, yaitu membangun budaya. Dalam hal ini, bagaimana
budaya kita dapat diwarnai oleh jiwa dan tradisi Islam. Di sini, pesantren
diharap mampu mengembangkan dan mempengaruhi tradisi yang bersemangat Islam di
tengah hembusan dan pengaruh dahsyat globalisasi yang berupaya menyeragamkan
budaya melalui produk-produk teknologi.
Sebagai sebuah lembaga yang bergerak dalam bidang pendidikan dan sosial
keagamaan, pengembangan pesantren harus terus didorong. Karena pengembangan
pesantren tidak terlepas dari adanya kendala yang harus dihadapinya. Apalagi
belakangan ini, dunia secara dinamis telah menunjukkan perkembangan dan
perubahan secara cepat, yang tentunya, baik secara langsung maupun tidak
langsung dapat berpengaruh terhadap dunia pesantren.
Terdapat beberapa hal yang tengah dihadapi pesantren dalam melakukan
pengembangannya, yaitu:
Pertama, image pesantren
sebagai sebuah lembaga pendidikan yang tradisional, tidak modern, informal, dan
bahkan teropinikan sebagai lembaga yang melahirkan terorisme, telah
mempengaruhi pola pikir masyarakat untuk meninggalkan dunia pesantren. Hal
tersebut merupakan sebuah tantangan yang harus dijawab sesegera mungkin oleh
dunia pesantren dewasa ini.
Kedua, sarana dan prasarana
penunjang yang terlihat masih kurang memadai. Bukan saja dari segi
infrastruktur bangunan yang harus segera di benahi, melainkan terdapat pula
yang masih kekurangan ruangan pondok (asrama) sebagai tempat menetapnya santri.
Selama ini, kehidupan pondok pesantren yang penuh kesederhanaan dan
kebersahajaannya tampak masih memerlukan tingkat penyadaran dalam melaksanakan
pola hidup yang bersih dan sehat yang didorong oleh penataan dan penyediaan
sarana dan prasarana yang layak dan memadai.
Ketiga, sumber daya manusia.
Sekalipun sumber daya manusia dalam bidang keagamaan tidak dapat diragukan
lagi, tetapi dalam rangka meningkatkan eksistensi dan peranan pondok pesantren
dalam bidang kehidupan sosial masyarakat, diperlukan perhatian yang serius.
Penyediaan dan peningkatan sumber daya manusia dalam bidang manajemen
kelembagaan, serta bidang- bidang yang berkaitan dengan kehidupan sosial
masyarakat, mesti menjadi pertimbangan pesantren.
Keempat, aksesibilitas dan
networking. Peningkatan akses dan networking merupakan salah satu kebutuhan
untuk pengembangan pesantren. Penguasaan akses dan networking dunia pesantren
masih terlihat lemah, terutama sekali pesantren-pesantren yang berada di daerah
pelosok dan kecil. Ketimpangan antar pesantren besar dan pesantren kecil begitu
terlihat dengan jelas.
Kelima, manajemen kelembagaan.
Manajemen merupakan unsur penting dalam pengelolaan pesantren. Pada saat ini
masih terlihat bahwa pondok pesantren dikelola secara tradisional apalagi dalam
urusan penguasaan informasi dan teknologi yang masih belum optimal. Hal
tersebut dapat dilihat dalam proses pendokumentasian (data base) santri dan
alumni pondok pesantren yang masih kurang terstruktur.
Keenam, pembenahan administrasi.
Memang tidak mudah untuk membenahi sistem administrasi pesantren. Sebab,
rata-rata masih dikelola secara tradisional. Jangankan buku induk, rapot,
struktur kepengurusan pondok, madrasah, dan lain-lain, stempel saja kadang
tidak ada. Begitu pula tidak mudah merubah keikhlasan mental santri dan alumni
untuk peduli terhadap hal-hal yang sepele -tapi penting- yang berkaitan
dengan administrasi. Seperti soal keistiqamahan dalam menulis ejaan nama, baik
di akte kelahiran, ijazah, KTP, SIM, dan sebagainya. Mungkin sudah zamannya,
masyarakat yang kental pesantren sekalipun tidak ingin anaknya hanya berhasil
dalam pendidikan pesantren dari sisi amaliyahnya saja, namun juga membutuhkan
hitam putih legal formalnya.
Ketujuh, kemandirian ekonomi
kelembagaan. Kebutuhan keuangan selalu menjadi kendala dalam melakukan
aktivitas pesantren, baik yang berkaitan dengan kebutuhan pengembangan
pesantren maupun dalam proses aktivitas keseharian pesantren. Tidak sedikit
proses pembangunan pesantren berjalan dalam waktu lama yang hanya menunggu
sumbangan atau donasi dari pihak luar, bahkan harus melakukan penggalangan dana
di pinggir jalan.
kedelapan, kurikulum yang
berorientasi life skills santri dan masyarakat. Pesantren masih
berkonsentrasi pada peningkatan wawasan dan pengalaman keagamaan santri dan
masyarakat. Apabila melihat tantangan kedepan yang semakin berat, peningkatan
kapasitas santri dan masyarakat tidak hanya cukup dalam bidang keagamaan
semata, tetapi harus ditunjang oleh kemampuan yang bersifat keahlian.
B.
Gaya Kepemimpinan Kyai
1.
Tipologi Kyai dan Kedudukanya di Pesantren
Sebelum menguraikan kedudukan (kepemimpinan ) kyai di pesantren, terlebih
dahulu penulis uraikan pengertian kyai. Kata "Kyai" berasal dari
bahasa Jawa kuno "kiya-kiya" yang artinya orang yang dihormati.
Sedangkan dalam pemakaiannya dipergunakan untuk: pertama, benda atau hewan yang
dikeramatkan, seperti kyai Plered (tombak), Kyai Rebo dan Kyai Wage (gajah di
kebun binatang Gembira loka Yogyakarta), kedua orang tua pada umumnya, ketiga,
orang yang memiliki keahlian dalam Agama Islam, yang mengajar santri di
Pesantren. Sedangkan secara terminologis menurut Manfred Ziemnek pengertian
kyai adalah "pendiri dan pemimpin sebuah pesantren sebagi muslim "terpelajar"
telah membaktikan hidupnya "demi Allah" serta menyebarluaskan dan
mendalami ajaran-ajaran dan pandangan Islam melalui kegiatan pendidikan Islam.
Namun pada umumnya di masyarakat kata "kyai" disejajarkan
pengertiannya dengan ulama dalam khazanah Islam.
Karisma yang dimiliki kyai merupakan salah satu kekuatan yang dapat
menciptakan pengaruh dalam masyarakat. Ada dua dimensi yang perlu diperhatikan.
Pertama, karisma yang diperoleh oleh seseorang (kyai) secara given,
sperti tubuh besar, suara yang keras dan mata yang tajam serta adanya ikatan
genealogis denga kyai karismaik sebelumnya. Kedua, karisma yang diperoleh
melalui kemampuan dalam pengausaan terhadap pengetahuan keagamaan disertai
moralitas dan kepribadian yang saleh, dan kesetiaan menyantuni masyarakat.
Posisi kepemimpinan kyai di pesantren lebih menekankan pada aspek
kepemilikan saham pesantren dan moralitas serta kedalaman ilmu agama, dan
sering mengabaikan aspek manajerial. Keumuman kyai bukan hanya sekedar pimpinan
tetapi juga sebagai sebagai pemilik persantren. Posisi kyai juga sebagai
pembimbing para santri dalam segala hal, yang pada gilirannya menghasilkan
peranan kyai sebagai peneliti, penyaring dan akhirnya similator aspek-aspek
kebudayaan dari luar, dalam keadaan seperti itu dengan sendirinya menempatkan
kyai sebagai cultural brokers (agen budaya).
2.
Sistem Peralihan Kepemimpinan di Pesantren
Estafeta pergantian kepemimpinan yang ada di Pesantren biasanya
turun-temurun dari pendiri ke anak ke menantu ke cucu atau ke santri senior.
Artinya ahli waris pertama adalah anak lai-laki, yang senior dan dianggap cocok
oleh kyai dan masyarakat untuk menjadi kyai, baik dari segi kealimannya
(moralitas/akhlak) maupun dari segi kedalaman ilmu agamanya. Jika hal ini tidak
mungkin, misalnya karena pendiri tidak punya anak laki-laki yang cocok untuk
menggantikannya, maka ahli waris kedua adalah menantu, kemudian sebagai ahli
waris ketiga adalah cucu. Jika semuanya tidak mungkin, maka ada kemungkinan
dilanjutkan oleh bekas santri senior.
Suksesi kepemimpinan pesantren sebagaimana digambarkan di atas, tidak hanya
berlaku bagi pesantren yang berstatus sebagai yayasan, tetapi juga berlaku bagi
pesantren-pesantren yang berstatus pribadi. Meskipun secara resmi sudah ada
ketentuan bahwa ahli waris pendiri tidak dengan sendirinya menjadi pengganti
3.
Gaya Kepemimpinan Kyai
Dari sekian banyak gaya kepemimpinan (leadership style) yang
dikemukakan oleh para pakar, namun yang paling populer dan sering dibahas dan
dijadikan rujukan oleh para praktisi dan peneliti hanya empat gaya
kepemimpinan, yaitu; Otokrastis, Demokratis, The Laisser faire (gaya bebas),
dan Situasional.
Di dalam pesantren santri, ustadz dan masyarakat sekitar merupakan
individu-individu yang langsung ataupun tidak langsung dipengaruhi oleh
perilaku pemimpin (kyai) tersebut.
Kepemimpinan di Pesantren lebih menekankan kapada proses bimbingan,
pengarahan dan kasih sayang. Menurut Mansur Gaya kepemimpinan yang ditampilkan
oleh pesantren bersifat kolektif atau kepemimpinan institusional. Lebih lanjut
ia menyatakan bahwa gaya kepemimpinan di pesantren mempunyai ciri
paternalistik, dan free rein leadership, dimana pemimpin pasif, sebagai seorang
bapak yang memberikan kesempatan kepada anaknya untuk berkreasi, tetapi juga
otoriter, yaitu memberikan kata-kata final untuk memutuskan apakah karya anak
buah yang bersangkutan dapat diteruskan atau tidak.
Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa Kyai sebagai pimpinan pesantren
dalam membimbing para santri atau masyarakat sekitarnya memakai pendekatan
situasional. Hal ini nampak dalam interaksi antara kyai dan santrinya dalam
mendidik, mengajarkan kitab, dan memberikan nasihat, juga sebagai tempat
konsultasi masalah, sehingga seorang kyai kadang berfungsi pula sebagai orang
tua sekaligus guru yang bisa ditemui tanpa batas waktu. Kondisi seperti ini
menunjukkan bahwa kepemimpinan kyai penuh tanggung jawab, penuh perhatian,
penuh daya tarik dan sangat berpengaruh. Dengan demikian perilaku kyai dapat
diamati, dicontoh, dan dimaknai oleh para pengikutnya (secara langsung) dalam interaksi
keseharian.
C.
Teknik Pengambilan Keputusan
Secara tipikal pembuatan
kebijaksanaan merupakan tindakan yang berpola, yang dilakukan sepanjang waktu
dan melibatkan banyak keputusan yang diantaranya ada yang merupakan keputusan
rutin, ada yang tidak rutin. Dalam praktek membuat kebijaksanaan sehari-hari
amat jarang kita jumpai suatu kebijaksanaan yang hanya terdiri dari keputusan
tunggal.
a. Pandangan umum tentang
pengambilan keputusan
Fred Luthans dalam bukunya
Perilaku Organisasi menyebutkan bahwa pengambilan keputusan
didefinisikan secara universal sebagai pemilihan alternative. Pendapat yang senada diungkapkan oleh Chester Barnard dalam The Function
of the Executive bahwa analisis komprehensif mengenai pengambilan keputusan
disebutkan sebagai suatu “proses keputusan yang merupakan teknik untuk
mempersempit pilihan”. Sementara dalam bahan ajar DR. Mohammad Abdul Mukhyi,
SE., MM bahwa membuat keputusan adalah “The process of choosing”. Sehingga dapat disimpulkan
bahwa pengambilan keputusan erat kaitannya dengan pemilihan suatu alternatif
untuk menyelesaikan atau memecahkan masalah serta memperoleh kesempatan.
Herbert Simon, ahli teori
keputusan dan organisasi mengonseptualisasikan tiga tahap utama dalam proses
pengambilan keputusan yaitu :
a.
Aktivitas intelegensi yakni penelusuran kondisi lingkungan yang memerlukan
pengambilan keputusan
b.
Aktivitas desain yakni terjadi tindakan penemuan, pengembangan dan analisis
masalah
c.
Aktivitas memilih yakni memilih tindakan tertentu dari yang tersedia
b. Fungsi dan tujuan
pengambilan keputusan
Pengambilan keputusan
sebagai suatu kelanjutan dari cara pemecahan masalah mempunyai fungsi antara
lain sebagai berikut:
1.
permulaan dari semua aktivitas manusia yang sadar dan terarah baik secara
individual maupun secara kelompok, baik secara institusional maupun secara
organisasional
2.
Sesuatu yang bersifat futuristik, artinya menyangkut dengan hari depan/masa
yang akan datang, dimana efeknya atau pengaruhnya berlangsung cukup lama.
Tujuan pengambilan
keputusan dapat dibedakan atas dua yaitu :
1.
Tujuan bersifat tunggal yaitu tujuan pengambilan keputusan yang bersifat
tunggal terjadi apabila yang dihasilkan hanya menyangkut satu masalah artinya
sekali diputuskan dan tidak akan ada kaitannya dengan masalah lain
2.
Tujuan bersifat ganda yaitu tujuan pengambilan keputusan yang bersifat ganda
terjadi apabila keputusan yang dihasilkan itu menyangkut lebih dari satu
masalah, artinya bahwa satu keputusan yang diambil itu sekaligus memecahkan dua
masalah atau lebih yang bersifat kontradiktif atau bersifat tidak kontradiktif.
c. Langkah dalam
pengambilan keputusan
Mintzberg mengungkapkan
bahwa langkah-langkah dalam pengambilan keputusan terdiri dari :
1. Tahap identifikasi
Tahap ini adalah tahap
pengenalan masalah atau kesempatan muncul dan diagnosis dibuat. Sebab tingkat
diagnosis tergantung dari kompleksitas masalah yang dihadapi
2. Tahap pengembangan
Tahap ini merupakan
aktivitas pencarian prosedur atau solusi standar yang ada atau mendesain solusi
yang baru. Proses desain ini merupakan proses pencarian dan percobaan di mana
pembuat keputusan hanya mempunyai ide solusi ideal yang tidak jelas
3. Tahap seleksi
Tahap ini pilihan solusi
dibuat, dengan tiga cara pembentukan seleksi yakni dengan penilaian pembuat
keputusan : berdasarkan pengalaman atau intuisi, bukan analisis logis, dengan
analisis alternatif yang logis dan sistematis, dan dengan tawar-menawar saat
seleksi melibatkan kelompok pembuat keputusan dan semua manuver politik yang
ada. Kemudian keputusan diterima secara formal dan otorisasi dilakukan.
D. Dasar-dasar pendekatan
pengambilan keputusan
Pengambilan keputusan
harus dilandasi oleh prosedur dan teknik serta didukung oleh informasi yang
tepat (accurate), benar(reliable) dan tepat waktu (timeliness). Ada beberapa
landasan yang digunakan dalam pengambilan keputusan yang sangat bergantung dari
permasalahan itu sendiri. Menurut George R.Terry dan Brinckloe disebutkan
dasar-dasar pendekatan dari pengambilan keputusan yang dapat digunakan yaitu :
1.
Intuisi
Pengambilan keputusan yang
didasarkan atas intuisi atau perasaam memiliki sifat subjektif sehingga mudah
terkena pengaruh. Pengambilan keputusan berdasarkan intuisn ini mengandung
beberapa keuntungan dan kelemahan.
Keuntungan :
- waktu yang digunakan
untuk mengambil keputusan relatif lebih pendek
- untuk masalah yang
pengaruhnya terbatas, pengambilan keputusan ini akan memberikan kepuasan pada
umumnya
- kemampuan mengambil
keputusan dari pengambil keputusan itu sangat berperan, dan itu perlu
dimanfaatkan dengan baik.
Kelemahan :
- Keputusan yang
dihasilkan relatif kurang baik
- Sulit mencari alat
pembandingnya, sehingga sulit diukur kebenaran dan keabsahannya - Dasar-dasar
lain dalam pengambilan keputusan seringkali diabaikan.
2.
Pengalaman
Pengambilan keputusan
berdasarkan pengalaman memiliki manfaat bagi pengetahuan praktis, karena
pengalaman seseorang dapat memperkirakan keadaan sesuatu, dapat diperhitungkan
untung ruginya terhadap keputusan yang akan dihasilkan. Orang yang memiliki
banyak pengalaman tentu akan lebih matang dalam membuat keputusan akan tetapi,
peristiwa yang lampau tidak sama dengan peristiwa yang terjadi kini.
3.
Wewenang
Pengambilan keputusan
berdasarkan wewenang biasanya dilakukan oleh pimpinan terhadap bawahannya atau orang yang lebih tinggi kedudukannya kepada orang yang lebih rendah
kedudukannya. Pengambilan keputusan berdasarkan wewenang ini juga memiliki
kelebihan dan kekurangan.
Kelebihan :
- Kebanyakan penerimaannya
adalah bawahan, terlepas apakah penerimaan tersebut secara sukarela ataukah
secara terpaksa
- Keputusannya dapat
bertahan dalam jangka waktu yang cukup lama
- Memiliki daya
autentisitas yang tinggi
Kelemahan :
- dapat menimbulkan sifat
rutinitas
- mengasosiasikan dengan
praktik diktatorial
- sering melewati
permasalahan yang seharusnya dipecahkan sehingga dapat menimbulkan kekaburan.
4.
Logika
Pengambilan keputusan yang
berdasar logika ialah suatu studi yang rasional terhadap semuan unsur pada
setiap sisi dalam proses pengambilan keputusan. Pada pengambilan keputusan yang
berdasarkan rasional, keputusan yang dihasilkan bersifat objektif, logis, lebih
transparan, konsisten untuk memaksimumkan hasil atau nilai dalam batas kendala
tertentu, sehingga dapat dikatakan mendekati kebenaran atau sesuai dengan apa
yang diinginkan. Pada pengambilan keputusan secara logika terdapat beberapa hal
yang perlu diperhatikan, yaitu :
- kejelasan masalah
- orientasi tujuan :
kesatuan pengertian tujuan yang ingin dicapai
- pengetahuan alternatif :
seluruh alternatif diketahui jenisnya dan konsekuensinya
- preferensi yang jelas :
alternatif bisa diurutkan sesuai kriteria
- hasil maksimal :
pemilihan alternatif terbaik didasarkan atas hasil ekonomis yang maksimal
E. Gaya pengambilan keputusan
Selain model rasionalitas,
terdapat pendekatan lain untuk perilaku pengambilan keputusan berfokus pada
gaya yang digunakan manajer dalam memilih alternatif. Ada empat gaya
pengambilan keputusan yaitu :
1.
Gaya Direktif
Pembuat keputusan gaya
direktif mempunyai toleransi rendah terhadap ambiguitas dan berorientasi pada
tugas dan masalah teknis. Pembuat keputusan ini cenderung lebih efisien, logis,
pragmatis, dan sistematis dalam memecahkan masalah. Pembuat keputusan direktif
juga berfokus pada fakta dan menyelesaikan segala sesuatu dengan cepat.
2.
Gaya Analitik
Pembuat keputusan gaya
analitik mempunyai toleransi yang tinggi untuk ambiguitas dan tugas yang kuat
serta orientasi teknis. Jenis ini suka menganalisis situasi; pada kenyataannya,
mereka cenderung terlalu menganalisis sesuatu. Mereka mengevaluasi lebih
banyak informasi dan alternatif daripada pembuat keputusan direktif.
3.
Gaya Konseptual
Pembuat gaya konseptual
mempunyai toleransi yang tinggi untuk ambiguitas, orang yang kuat dan peduli
pada lingkungan sosial. Mereka berpandangan luas dalam memecahkan masalah dan
suka mempertimbangkan banyak pilihan dan kemungkinan masa mendatang. Pembuat
keputusan ini membahas sesuatu dengan orang sebanyak mungkin untuk mendapat
sejumlah informasi dan kemudian mengandalkan intuisi dalam mengambil keputusan.
4.
Gaya Perilaku
Pembuat keputusan gaya
perilaku ditandai dengan toleransi ambiguitas yang rendah, orang yang kuat dan
peduli lingkungan sosial. Gaya ini cenderung bekerja dengan baik dengan orang
lain dan menyukai situasi keterbukaan dalam pertukaran pendapat yakni cenderung
menerima saran, sportif dan bersahabat serta menyukai informasi verbal daripada
tulisan.
H. Teknik pengambilan
keputusan partisipatif
Teknik partisipatif ada
dua yaitu teknik partisipatif individu dan kelompok. Untuk individu dimana
karyawan mempengaruhi pengambilan keputusan manajer. Sementara untuk kelompok
menggunakan teknik konsultasi dan demokrasi. Dalam partisipasi konsultasi,
manajer meminta dan menerima keterlibatan karyawan, tetapi manajer
mempertahankan hak untuk membuat keputusan. Dalam bentuk demokrasi terjadi
partisipasi total an kelompok bukan per individu yaitu dengan suara terbanyak.
BAB IV
KESIMPULAN
Ada tiga hal yang
dikuatkan dalam pesantren. Pertama, tamaddun yaitu memajukan
pesantren. Kedua, tsaqafah, yaitu bagaimana memberikan pencerahan
kepada umat Islam agar kreatif-produktif, dengan tidak melupakan orisinalitas
ajaran Islam. Misalnya akrab dengan komputer dan berbagai ilmu pengetahuan
serta sains modern lainnya. Ketiga, hadharah, yaitu membangun
budaya. bagaimana budaya kita dapat diwarnai oleh jiwa dan tradisi Islam,
pesantren diharap mampu mengembangkan dan mempengaruhi tradisi yang bersemangat
Islam di tengah hembusan dan pengaruh dahsyat globalisasi yang berupaya
menyeragamkan budaya melalui produk-produk teknologi.
Dari sekian banyak gaya
kepemimpinan (leadership style) yang dikemukakan oleh para pakar, namun
yang paling populer dan sering dibahas dan dijadikan rujukan oleh para praktisi
dan peneliti hanya empat gaya kepemimpinan, yaitu; Otokrastis, Demokratis, The
Laisser faire (gaya bebas), dan Situasional.
Di dalam pesantren santri,
ustadz dan masyarakat sekitar merupakan individu-individu yang langsung ataupun
tidak langsung dipengaruhi oleh perilaku pemimpin (kyai) tersebut. Kepemimpinan di Pesantren lebih menekankan kapada proses bimbingan,
pengarahan dan kasih sayang. Menurut Mansur Gaya kepemimpinan yang ditampilkan
oleh pesantren bersifat kolektif atau kepemimpinan institusional. Lebih lanjut ia
menyatakan bahwa gaya kepemimpinan di pesantren mempunyai ciri paternalistik,
dan free rein leadership, dimana pemimpin pasif, sebagai seorang bapak yang
memberikan kesempatan kepada anaknya untuk berkreasi, tetapi juga otoriter,
yaitu memberikan kata-kata final untuk memutuskan apakah karya anak buah yang
bersangkutan dapat diteruskan atau tidak.
Kyai sebagai pimpinan
pesantren dalam membimbing para santri atau masyarakat sekitarnya memakai
pendekatan situasional. Hal ini nampak dalam interaksi antara kyai dan
santrinya dalam mendidik, mengajarkan kitab, dan memberikan nasihat, juga
sebagai tempat konsultasi masalah, sehingga seorang kyai kadang berfungsi pula
sebagai orang tua sekaligus guru yang bisa ditemui tanpa batas waktu. Kondisi
seperti ini menunjukkan bahwa kepemimpinan kyai penuh tanggung jawab, penuh
perhatian, penuh daya tarik dan sangat berpengaruh. Dengan demikian perilaku
kyai dapat diamati, dicontoh, dan dimaknai oleh para pengikutnya (secara
langsung) dalam interaksi keseharian.
DAFTAR PUSTAKA
Dhofie, Zamakhsyari. Tradisi Pesantren, cet. 2 (Jakarta: Mizan)
Fatoni, Sulthan. Peradaban Islam; Desain Awal Peradaban, Konsolidasi
Teologi, Konstruk Pemikiran dan Pencarian Madrasah
(Jakarta: eLSAS, 2006)
Geertz, Clifford. The Javanese Kijaji: The Changing Role of a Cultural
Brokers “Comparative studies on Society” vol.2
(Cambridge, 1960)
Ghozali, M. Bahri. Pesantren Berwawasan Lingkungan,
(Jakarta : Prasasti, 2003)
Lukens-Bull, Ronald Alan. A Peacefull Jihad, diterjemahkan
oleh Abdurrahman Mas’ud dkk dengan tajuk, Jihad Ala
Pesantren di Mata Antropolog Amerika (Jogjakarta: Gama Media, 2004)
Madjid, Nurcholis. Bilik-Bilik Pesantren; Sebuah Potret Perjalanan, Cet. 1 (Jakarta: Paramadina, 1977)
Mas’ud, Abdurrahman. Sejarah dan Budaya Pesantren (Jakarta : Erlangga,
2002)
Masyhud, Sulthon dkk. Manajemen
Pondok Pesantren, (Jakarta : Diva Pustaka, 2003)
Rahardjo, Dawam. Pesantren dan Pembaharuan,( Jakarta:
LP3ES 1985)
Stenbrink, Karel A. Pesantren, Madrasah, Sekolah Pendidikan Islam dalam Kurun Modern,
(Jakarta: LP3S, 1986)
Suminto, Aqib. Politik Islam Hindia Belanda,
(Jakarta ; LP3ES, 1985)
Wahid, Abdurrahman. Islam Kosmopolitan; Nilai-Nilai Indonesia dan
Transformasi Kebudayaan (Jakarta: The Wahid Institute
Seeding Plural and Peaceful Islam, 2007)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar